Sebuah Cerpen oleh pakmus911
Lantai papan ulin itu berderit setiap kali ada yang menggeser pantat. Tiga belas orang duduk melingkar di ruang tengah, beralaskan tikar pandan yang tepiannya sudah terburai. Di sudut dekat dinding kayu yang menghitam kena jelaga pelita, bau minyak kayu putih dan luka dekubitus masih tertinggal tipis, membaur dengan kepulan asap rokok linting dan aroma kopi robusta murahan.
Tanah merah di luar basah sehabis diguyur hujan lebat semalam. Kubangan di jalan setapak desa sedalam betis orang dewasa; jangankan pikap, motor bebek yang memaksakan diri masuk pun rantainya putus dan harus diseret melewati jembatan batang gelondongan.
Nurlia duduk merapatkan lutut ke dada. Jarinya yang kasar mengorek serat tikar pandan. Kulit telapak tangannya tebal, kapalan di bawah pangkal jari, tanda tujuh tahun menimba air dari sumur tua, memeras kain lap basah, dan mengangkat tubuh ringkih bapaknya yang separuh mati dari kasur busa tipis ke kursi roda pinjaman puskesmas pembantu.
Di hadapannya, secarik kertas bergaris terhampar di atas meja pendek. Angka-angka tertulis dengan tinta biru pena murah.
“Kan aturannya sudah jelas, Nur,” suara Paman Basri memecah dengung lalat. Ia mengetuk meja dengan korek api kayu. “Dua banding satu. Itu bukan maunya kami. Itu bunyi kitab. Mau nawar ketetapan yang sudah turun dari langit?”
Nurlia menatap cangkir seng di samping piring pisang rebus. Ia tidak langsung menjawab. Bibirnya terkatup rapat sampai membentuk garis tipis pucat.
“Bapak nggak pernah bikin surat,” sahut Nurlia datar. Suaranya serak. Matanya tertuju lurus pada Ardan.
Adiknya itu duduk bersandar ke dinding, dua meter di kanannya. Kulit Ardan bersih, tidak legam terbakar matahari seperti warga desa kebanyakan. Kemeja flanelnya wangi detergen wangi toko, bukan wangi sabun colek kiloan yang biasa dipakai Nurlia mencuci sprei berlumur kotoran bapak mereka. Di pergelangan tangan kirinya melingkar jam rantai berkilap. Ardan menunduk, sibuk membersihkan kotoran di balik kuku jempolnya dengan ujung sobekan rokok.
“Ya… tapi kan hak, Kak,” Ardan bergumam tanpa mengangkat wajah. “Maksudku… bukan mau maruk, tapi aku juga butuh modal di kota. Kontrakan mau habis bulan depan. Rina juga mau lahiran.”
“Tujuh tahun, Dan.”
“Kak, jangan mulai lagi”
“Tujuh tahun,” potong Nurlia. Kali ini pandangannya menusuk lurus ke mata adiknya. “Kamu pulang cuma waktu Lebaran tahun ketiga. Dua hari. Habis itu kamu kirim uang dua ratus ribu setahun sekali, itu pun kalau ditelepon dari warung pulsa di dermaga. Bapak ngompol di kasur tiap malam. Bapak teriak-teriak minta ampun tiap sendinya kaku pas subuh. Siapa yang cebokin?”
“Loh, itu kan bakti anak perempuan!” bibi mereka, Mariam, menyela cepat sambil membetulkan letak selendang di kepalanya. “Pahalamu itu, Nur. Jangan diungkit-ungkit. Pamali orang tua baru tiga hari dikubur kok hitung-hitungan keringat.”
Nurlia menoleh perlahan ke arah bibinya. Napasnya terdengar berat. “Bukan hitung keringat, Bi. Rumah ini mau dijual ke orang tambang seberang. Kalau rumah ini dibagi dua banding satu, sisa bagianku bahkan nggak cukup buat beli atap seng pondok di ujung ladang. Aku mau tidur di mana?”
Hening menyergap ruangan. Asap tembakau menggantung di udara lembap yang menyesakkan.
Paman Basri berdeham panjang. Tangannya yang dipenuhi bintik penuaan meraba jenggot tipisnya. “Nur. Kamu ngaji dari kecil. Khatam berkali-kali. Kamu tahu ayatnya: li adz-dzakari mitslu hazhzhi al-untsayayain. Bagian laki-laki dua kali bagian perempuan. Kamu mau nolak hukum Tuhan cuma gara-gara kamu merasa paling cape?”
Pertanyaan itu menghantam ulu hati Nurlia.
Ia hafal ayat itu. Ia paham susunan tata bahasanya, asbabun nuzulnya, konteks perlindungan nafkah yang diemban laki-laki pada masa teks itu diturunkan. Ia belajar di madrasah tsanawiyah sebelum bapaknya jatuh dari pohon karet dan lumpuh total, memaksanya berhenti sekolah untuk jadi perawat tunggal di rumah panggung reot ini.
Di kepalanya, ayat itu tidak pernah terdengar kejam. Teks itu suci. Teks itu adil—dalam ruang kelas yang bersih, di bawah lampu neon surau, di bibir ustadz yang ceramah dengan tenang.
Tapi di atas lantai ulin yang dingin ini, teks itu berubah menjadi palu godam yang siap meratakan hidupnya ke tanah merah.
“Keadilan itu apa, Paman?” bisik Nurlia. Matanya tidak berair. Kering. “Bapak sakit, Ardan nggak pernah kirim obat. Bapak butuh tabung oksigen waktu sesak napas tahun lalu, aku yang gadaikan gelang peninggalan Emak ke juragan getah. Ardan di mana? Ardan makan enak di Samarinda.”
“Kak, aku kan kerja!” suara Ardan meninggi, mukanya merah padam. “Kakak kira cari uang di rantau gampang, hah? Aku banting tulang”
“Banting tulang buat siapa?!” Nurlia berdiri. Lututnya gemetar, tapi punggungnya tegak lurus. Seluruh pasang mata di ruangan itu tersentak mundur. Kursi kayu bergeser kasar menghasilkan decit tajam.
“Buat kamu sendiri!” lanjut Nurlia, napasnya memburu. “Sekarang bapak mati, kamu pulang bawa map, bawa kertas, bawa nama Tuhan buat ambil dua pertiga dari tanah dan rumah yang tiap jengkal lantainya pernah aku pel dari muntahan Bapak!”
“Nurlia! Jaga mulutmu!” bentak Paman Basri sambil memukul meja. Piring pisang bergetar. “Jangan bawa-bawa nama Tuhan sembarangan! Hukum faraid itu paten! Nggak ada urusan sama siapa yang cebokin atau siapa yang merantau!”
Beberapa kerabat lain mulai berbisik-bisik, menggelengkan kepala, melempar tatapan menyalahkan ke arah Nurlia. Kurang ajar. Pembangkang. Takut miskin. Kata-kata itu melayang tanpa diucapkan keras-keras, tapi Nurlia bisa mencium baunya sejelas bau lumpur yang menempel di kolong rumah.
Nurlia menatap wajah adiknya lagi. Ardan tidak balas menatapnya. Lelaki muda itu justru menatap kertas di atas meja, jempol tangannya mengetuk-ngetuk pelan permukaan kayu. Tak ada rasa bersalah di sana. Yang ada hanya kegelisahan seorang penagih utang yang ingin urusannya lekas kelar agar bisa segera mengejar perahu klotok jadwal sore di dermaga.
“Tanda tangan di sini, Nur,” Paman Basri menyodorkan pena murah itu ke dekat tangan Nurlia. “Saksi sudah ada semua. Kepala desa juga sudah setuju asal keluarga beres. Nanti bagianmu dicairkan tunai setelah orang tambang bayar uang muka.”
Pena itu tergeletak kaku di atas kertas.
Nurlia menatap ujung pena yang berlepotan tinta kering.
Di dinding belakang meja, sebuah kaligrafi ayat kursi bertinta emas yang sudah kusam tergantung miring. Bapak yang memasangnya belasan tahun lalu, waktu kakinya masih kokoh memanjat pohon dan suaranya masih lantang mengimami salat magrib.
Nurlia menarik napas panjang. Udara pedalaman yang sarat uap gambut masuk menusuk tenggorokannya. Tangannya terulur ke meja.
Jari-jarinya menyentuh badan pena plastik itu. Dingin.
Paman Basri menghela napas lega, tubuhnya yang tegang kembali bersandar. Ardan melirik sekilas dari sudut mata, bahunya tampak turun beberapa senti, beban di kepalanya seolah terangkat.
Nurlia mengangkat pena tersebut. Ia menatap kertas perjanjian yang sudah dibubuhi tanda tangan Ardan dan cap jempol dua orang saksi.
Lalu, tangannya meremas kertas itu pelan-pelan.
Bukan merobeknya dengan amarah yang meledak-ledak. Ia hanya meremasnya. Suara serat kertas berderak di dalam kepalan tangannya yang kasar, melipat angka-angka rupiah dan kutipan ayat itu menjadi gumpalan kusut sebesar tinju anak-anak.
Semua orang di ruangan mematung.
“Nur?” suara Paman Basri tertahan di tenggorokan.
Nurlia meletakkan gumpalan kertas itu kembali ke atas meja, tepat di sebelah piring pisang rebus. Ia menaruh penanya di samping gumpalan tersebut dengan gerakan yang sangat hati-hati, seolah takut membenturkannya ke kayu.
Tanpa mengucap sepatah kata pun, Nurlia membalikkan badan.
Ia melangkah keluar menuju pintu belakang yang mengarah ke dapur. Langkah kakinya berat di atas papan ulin. Dari halaman belakang, suara gerimis kembali terdengar mulai jatuh mengetuk daun-daun pisang di dekat sumur. Dingin kembali merayap masuk lewat celah-celah dinding.

