MALANG, TIMES INDONESIA – H. Abdullah Syamsul Arifin, atau yang akrab disapa Gus Aab, Ketua Lembaga Dakwah PBNU menjadi narasumber utama dalam talkshow dan ngaji bareng di SMAS Raudlatul Ulum Gondanglegi Malang, Senin (26/1/2026).
Acara yang diinisiasi oleh Yayasan Pendidikan Usmani ini menjadi oase tersendiri bagi para dewan guru dan pengurus pesantren, khususnya bagi civitas akademika SMAS Raudlatul Ulum Gondanglegi.
Mengusung tema “Meningkatkan Wawasan dan Semangat Belajar, Dari Kewajiban Menjadi Kebutuhan,” Gus Aab tidak memulainya dengan teori yang njelimet. Beliau justru menukik langsung ke jantung persoalan pendidikan era digital: fenomena “ilmu instan”.
Melawan Arus “Tahu Bulat” Digital
Dalam paparannya yang penuh gelak tawa namun sarat makna (“daging semua”, meminjam istilah peserta), Gus Aab menyoroti tantangan berat yang dihadapi pendidik hari ini. Di era di mana “Mbah Google” seolah tahu segalanya, posisi guru dan kitab kuning seringkali dianggap usang.
“Generasi sekarang maunya instan. Padahal, Tholabul Ilmi itu butuh proses. Kalau instan, ilmunya juga instan, cepat hilang,” ujar Gus Aab. Beliau menekankan bahwa validitas sanad keilmuan dan keberkahan tatap muka guru-murid tidak akan pernah bisa digantikan oleh algoritma mesin pencari.
Pesan ini menohok sekaligus menguatkan hati para pengajar di SMAS Raudlatul Ulum Gondanglegi. Di tengah gempuran teknologi AI yang bisa menjawab pertanyaan fiqih dalam hitungan detik, Gus Aab mengingatkan bahwa Google mungkin punya data, tapi tidak punya Khasyah (rasa takut dan hormat kepada Allah). Dan Khasyah itulah puncak dari segala ilmu.
Integrasi Sains dan Wahyu: Sebuah Keharusan
Suasana makin hangat ketika diskusi masuk ke ranah integrasi ilmu. Gus Aab dengan cerdas membedah bagaimana Al-Qur’an dan sains bukanlah dua kutub yang berseberangan, melainkan kepingan puzzle yang saling melengkapi.
Beliau mencontohkan ayat tentang kebangkitan manusia dan sidik jari (banan), yang ternyata baru terbukti secara ilmiah berabad-abad kemudian sebagai identitas unik manusia. “Ini bukti bahwa Al-Qur’an itu minallah. Guru harus bisa duduk bareng, mengintegrasikan tafsir dengan sains agar murid tidak sekuler dalam berpikir,” tegasnya.
Bagi SMAS Raudlatul Ulum Gondanglegi yang berada di lingkungan pesantren, wawasan ini menjadi amunisi baru. Bahwa menjadi santri atau siswa madrasah bukan berarti gagap teknologi, melainkan mampu menjadi jembatan yang menghubungkan teks suci dengan konteks masa kini tanpa kehilangan jati diri.
Santri: Ready for Life, Bukan Sekadar Ready for Use
Satu momen yang membuat seisi ruangan bertepuk tangan adalah ketika Gus Aab memaparkan keunggulan sistem pendidikan pesantren dibanding pendidikan umum. Menurutnya, pesantren tidak mencetak manusia robot yang hanya Ready for Use (siap pakai untuk industri), tetapi mencetak manusia yang Ready for Life (siap hidup dalam kondisi apa pun).
“Di pesantren, soft skills seperti kolaborasi, pemecahan masalah (problem solving), dan berpikir kritis itu makanan sehari-hari. Santri diajarkan hidup sederhana saat kaya, dan tetap tangguh saat susah. Itu mentalitas yang mahal,” paparnya.
Pernyataan ini seolah menjadi suntikan moral bagi para guru SMAS Raudlatul Ulum Gondanglegi. Di tengah stigma miring yang kadang dialamatkan pada lulusan pesantren, Gus Aab menegaskan bahwa karakter dan akhlak yang dibangun melalui proses panjang “ngaji” adalah aset yang tak ternilai harganya.
Sebuah Tamparan Intelektual
Talkshow ini ditutup dengan sesi tanya jawab yang dinamis. Dari kegelisahan guru menghadapi siswa kritis, hingga pertanyaan tentang ulama su’ (ulama buruk). Gus Aab menjawab semuanya dengan kombinasi dalil yang kuat (aqli dan naqli) serta humor khas pesantren yang menyegarkan.
Salah satu kisah ikonik yang beliau sampaikan adalah tentang kiai kampung yang menjawab tiga pertanyaan ateis (tentang wujud Tuhan, takdir, dan setan/api) hanya dengan satu tamparan (torkopan). Sebuah analogi cerdas bahwa terkadang, jawaban terbaik tidak selalu berupa kata-kata panjang, melainkan tindakan yang tepat sasaran.
Hampir tiga jam berlalu tanpa terasa. Saat doa penutup dilantunkan, wajah-wajah lelah para guru berganti menjadi wajah penuh semangat. Acara ini bukan sekadar seminar, melainkan proses recharging energi.
Bagi keluarga besar SMAS Raudlatul Ulum Gondanglegi, kehadiran Gus Aab hari itu menegaskan kembali komitmen mereka: bahwa mendidik bukan sekadar mentransfer pengetahuan, tetapi menyalakan api mahabbah (cinta) pada ilmu, agar belajar tak lagi menjadi beban kewajiban, melainkan kebutuhan jiwa yang haus akan kebenaran. (*)
Pewarta: Musolli, S.Th.I (Guru Pendidikan Pancasila dan Waka. Kurikulum SMAS Raudlatul Ulum Gondanglegi)

