Dunia pendidikan kita sedang menghadapi dilema moral yang paradoks. Di satu sisi, pemerintah gencar mengupayakan asupan kalori bagi siswa melalui program makan bergizi untuk mencetak “Generasi Emas”. Di sisi lain, potret guru terutama honorer yang berupah di bawah standar kelayakan hidup masih menjadi luka menganga yang tak kunjung sembuh.
Fenomena ini memicu pertanyaan pahit, apakah kita sedang membangun fisik siswa, namun secara perlahan merobohkan mentalitas pengajarnya? Saat ini, perhatian pemerintah banyak mengalir ke program Makan Bergizi Gratis (MBG). Munculnya SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi) membuat sistem ekonomi baru yang muncul yang dibentuk oleh Badan Gizi Nasional (BGN) untuk memproduksi dan mendistribusikan makan bergizi gratis (MBG) bagi anak sekolah sesuai standar gizi.
SPPG berperan dalam pengelolaan bahan baku, kontrol gizi, hingga pemberdayaan ekonomi lokal, terbukti menggerakkan perekonomian lokal secara signifikan. SPPG memberdayakan petani, peternak, dan nelayan lokal sebagai penyuplai bahan baku (95% produk lokal) serta menyerap tenaga kerja setempat (hingga 50-an orang per dapur), yang meningkatkan pendapatan desa.
Data dari mbah google menunjukan bahwasanya “Anggaran Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di APBN 2026 sangat besar, mencapai Rp335 triliun, yang setara dengan porsi signifikan dari total APBN dan bahkan mengambil porsi besar dari anggaran pendidikan (sekitar 30% dari anggaran pendidikan 2026), sumber utamanya dari dana pendidikan, kesehatan, dan ekonomi. Anggaran MBG 2026 ini jauh lebih besar dari alokasi 2025 yang sekitar Rp71 triliun, menunjukkan peningkatan skala program secara Merata”
Namun, di balik semangat pemerintah memberi makan pada siswa di sekolah, ada permasalahan nyata di dalam lingkungan pendidikan, yaitu ketimpangan pendapatan antara para petugas MBG dengan para Tenaga Pendidik.
Oke, ada beberapa poin yang harus di ketahui, Mari kita bahas apa yang menjadi keresahan para tenaga pendidik dalam konteks permasalahan ini.
-
Komodifikasi Gizi Versus Penurunan Kualitas Pendidikan
Dari sudut pandang teori human capital, investasi pada gizi seseorang ketika pada masa Pertumbuhan memang sangat penting. Tanpa asupan Nutrisi yang Baik, otak seseorang fungsi nya yakni kognitif, seperti sulit fokus, mudah lupa, mood swing (mudah tersinggung/cemas), gangguan memori, hingga masalah serius seperti halusinasi jika kekurangan energi ekstrem. (Menurut AI, Bisa di cek sendiri) Lalu di sudut lain bagaimana siswa bisa kenyang kalau guru yang mengajar sedang terkena Pressure karena finansial? Heheheu
Petugas SPPG biasanya mendapat Gaji yang bisa di prediksi kapan akan cair dan jadwanya pun jelas karena kegiatannya berbasis proyek pemerintah.
Sebaliknya, kebanyakan guru terutama di daerah masih terjebak dalam proses birokrasi gaji yang sangat tidak sebanding dengan standar hidup yang layak ( Biasanya mengikuti dana BOS yang bendahara sekolah pun tidak tau kapan akan cair)
- Apakah Ini Tepat Sasaran?Pemerintah mengatakan bahwa SPPG akan menciptakan lapangan kerja. Dari sisi makro, ini adalah pengaruh multiplier yang positif. Namun, jika dilihat dari perspektif sosiologi ekonomi, terjadi ‘pencemaran’ nilai profesi, Bayangkan saja lulusan Perguruan tinggi yang kadang lulusnya tidak tepat waktu, lebih memilih bekerja sebagai staf administrasi atau logistik di unit MBG karena gajinya lebih gede dan cair tepat waktu, daripada menjadi guru honorer yang gajinya sering tidak teratur karena ketergantungan pada dana BOS yang tidak pasti. (apalagi guru hororer, duh sangat menakutkan)
- Urgensi Anggaran
Ketimpangan ini bukan sekadar soal angka di amplop, tetapi juga soal kebijakan anggaran yang tidak adil. Sebagaimana diungkapkan di Mojok.co “Negara jangan sampai hanya pandai memberi makan, tapi lupa memberi masa depan.” Kesejahteraan guru seharusnya menjadi bagian yang tetap dalam upaya membangun bangsa, bukan malah anggaran nya dipangkas demi menutupi defisit biaya program lainnya.
Jangan Sampai Guru Jadi ‘Pencuci Piring’ Peradaban
Pelaksanaan Program MBG dan pembentukan SPPG di daerah daerah memang langkah yang berani, namun tanpa adanya kesesuaian dalam penggajian guru, kita hanyalah membangun bangunan megah di atas pondasi yang rapuh….
Kita mengharapkan peserta didik yang kenyang, tetapi kita juga yang butuh guru merasa tenang. Negara jangan sampai hanya terbiasa memberi makan, tapi lupa memberi masa depan bagi mereka yang tugasnya mencerdaskan kehidupan bangsa.
No responses yet