Gema denting sendok yang mengaduk teh hitam membentur dinding-dinding tinggi berbalut cat putih gading. Rumah ini terlalu besar. Tiga lantai, lima kamar tidur, pilar-pilar bergaya eropa menopang atap, dan lantai marmer dingin yang senantiasa memantulkan bayangan perabotan minimalis.
Tapi kosong.
Sejak kematian istrinya lima tahun lalu, Kaunia merasa tinggal di dalam sebuah brankas raksasa; kedap suara, mahal, dan perlahan-lahan meremukkan dada.
Kaunia menyesap tehnya yang sudah dingin. Pahit. Matanya menatap tajam ke arah tangga melingkar di ujung ruang keluarga. Matahari sore menembus masuk dari jendela raksasa, memperlihatkan debu-debu yang melayang lambat di udara.
Dari lantai dua, tepatnya dari kamar anak sulungnya, Raka, terdengar dengungan konstan. Mirip suara lebah raksasa yang sedang marah. Itu suara kipas dari dua komputer rakitan yang tidak pernah mati berhari-hari.
Kaunia meletakkan cangkir kaca dengan hati-hati. Tangannya yang kasar dengan kapalan di telapaknya meraih keranjang rotan berisi pakaian bersih. Dia baru saja selesai menyetrika. Kaunia berjalan naik, anak tangganya entah mengapa terasa jauh lebih curam dari biasanya. Usianya belum lewat lima puluh, tapi belakangan lutut kirinya sering berdenyut ngilu.
Sabar, batinnya. Dia selalu memegang prinsip itu. Sabar, kerja keras, lurus-lurus saja. Berkat prinsip itu dia bisa membawa keluarganya keluar dari rumah petak sempit di pinggiran kota ke perumahan elite ini. Dia membesarkan dua anak sendirian. Raka di kelas tiga SMA, dan Nisa, si bungsu yang setahun belakangan memutuskan berhenti sekolah dan mengunci diri di kamar.
“Kurang ibadah anak itu,” gumam Kaunia tempo hari, saat wali kelas Nisa datang berkunjung. “Nanti saya bawa ke pesantren kilat kalau libur panjang, biar hatinya tenang, nggak kemasukan angin jelek.”
Pintu kamar Raka tidak tertutup rapat. Terdengar gemercik air jatuh menabrak keramik dari kamar mandi di dalam. Raka sedang mandi.
Kaunia mendorong pintu menggunakan sikunya. Hawa dingin AC langsung menampar wajah, menusuk tulang. Kamar itu gelap, tirai jendela hitam ditarik rapat-rapat padahal di luar terang benderang. Satu-satunya sumber cahaya berasal dari tiga monitor memanjang yang menyala terang di atas meja kerja.
Kaunia menaruh keranjang cucian di atas kasur yang spreinya menggumpal berantakan. Dia hendak memutar tubuh keluar.
Matanya menangkap sesuatu bergerak di layar monitor paling tengah.
Dia menyipitkan mata. Melangkah mendekat. Keningnya berkerut dalam.
Layar itu menampilkan sebuah video pendek yang terus diulang. Di dalam video itu, ada Tante Santi. Mantan ketua dawis tetangga beda blok. Perempuan berbadan sintal yang seingat Kaunia baru saja meninggal bulan lalu karena kanker payudara payah. Kaunia sendiri ikut menggotong kerandanya ke pemakaman.
Tapi Tante Santi di dalam layar itu tampak sangat sehat. Kulitnya tidak pucat kelabu seperti terakhir kali Kaunia melihatnya. Dia memakai kerudung merah marun andalannya. Wajahnya menghadap lurus. Bibirnya melengkung ke atas membentuk senyum lebar. Matanya berkedip lambat.
Sebuah suara keluar bocor dari headphone yang tergeletak di atas keyboard. Suara Tante Santi. Agak statis dan serak, tapi sangat jelas polanya.
“Mama udah nggak sakit lagi, Dek. Kamu yang pinter ya sekolahnya. Jangan nangisin Mama terus…”
Napas Kaunia mendadak tersangkut di pangkal tenggorokan.
Dadanya berdegup keras memompa darah ke telinga. Tante Santi sudah mati. Jenazahnya diturunkan ke tanah basah. Tapi yang di layar ini bernapas. Bergerak. Berbicara.
Tangan Kaunia gemetar. Dia menyentuh mouse, menggerakkannya tanpa sadar. Layar sebelah kanan yang tadinya meredup kini terang, menampilkan aplikasi obrolan hijau. Ratusan baris percakapan muncul.
Klien_Mbak_Rini: Mas, bisa bikin bapak saya kelihatan lagi ngerokok di teras sambil ketawa nggak? Ibu saya dari kemarin nangis terus nyariin.
Raka_Admin: Bisa, Bu. Biayanya nambah 2 juta untuk nambah gerak bahu dan tangan. Total 5 juta. File mentah fotonya kirim ke email biasa ya.
Klien_Mbak_Rini: Nggak apa-apa Mas. Transfer ke rekening BCA yang kemarin kan?
Tangan Kaunia semakin bergetar. Dia mengklik tab lain. Tab perbankan.
Matanya terbelalak hingga terasa perih. Barisan angka masuk. Dua juta. Lima juta. Sepuluh juta. Mutasi masuk minggu ini saja panjang. Saldo akhir di pojok atas layar itu menunjukkan angka seratus delapan belas juta rupiah. Anak laki-lakinya yang masih pakai seragam abu-abu punya uang tunai sebanyak itu.
Kepala Kaunia berdenyut hebat. Bau sabun mandi maskulin mendadak menguasai ruangan.
Klak.
Pintu kamar mandi terbuka. Raka melangkah keluar, handuk putih tebal melilit pinggang, rambut ikalnya meneteskan air ke lantai kayu.
Langkah Raka terhenti mendadak. Badannya menegang melihat ayahnya berdiri mematung di depan meja komputer.
Keheningan seketika membeku. Hanya ada suara deru kipas prosesor.
“Bapak…” Suara Raka serak. Dia menelan ludah. “Bapak ngapain di situ?”
Kaunia menunjuk monitor. Jari telunjuknya bergetar kencang. Rahangnya mengeras sedemikian rupa hingga urat lehernya menonjol. Mulutnya membuka, tapi butuh beberapa detik sebelum suaranya pecah di udara.
“Ini… apa, Ka?”
Raka buru-buru menarik kaus hitam dari tumpukan di atas kursi malas dan memakainya dengan kasar. “Bapak nggak usah buka-buka komputer orang. Itu kerjaanku. Privasi.”
“Bapak tanya ini apa?!” Kaunia membentak. Gema teriakannya memantul keras.
Dia menarik kursi gaming hitam itu ke belakang. “Kamu jual orang mati, Raka?! Kamu nipu orang?!”
“Aku nggak nipu!” Raka membalas, suaranya naik. Jarak mereka kini hanya terpaut keranjang cucian. “Mereka yang minta, Pak! Mereka ngasih foto keluarganya, aku cuma gerakin pakai aplikasi.”
“Itu dosa haram!” Dada Kaunia naik-turun cepat. “Kamu memeras orang yang lagi berduka! Tante Santi udah di tanah liat, Ka! Kamu bikin dia seolah-olah ngomong gitu buat meres duit keluarganya? Dimana akal sehatmu?!”
“Bukan memeras! Ini namanya jasa.” Raka menyugar rambut basahnya dengan kasar. “Mereka butuh… mereka mau tenang, Pak. Mereka tahu persis itu cuma editan komputer. Tapi mereka rela bayar mahal cuma buat lihat ibunya, atau bapaknya yang udah mati itu senyum lagi buat terakhir kali!”
Plak!
Satu tamparan telak mendarat di pipi kiri Raka.
Bunyi kulit beradu daging itu memekakkan telinga. Kepala Raka terlempar keras ke samping.
Telapak tangan Kaunia panas. Selama tujuh belas tahun, dia tidak pernah mengangkat tangan pada Raka. Sebandel apa pun anaknya bolos sekolah atau berkelahi, Kaunia selalu bersabar menceramahinya. Tapi ini melewatinya batas batas manusia. Ini mempermainkan takdir Tuhan. Menjual bayangan mayat. Penipuan paling kotor yang pernah Kaunia dengar.
“Tutup.” Kaunia menunjuk layar dengan napas tersengal. “Hapus semua aplikasinya. Kembalikan duit haram itu hari ini juga.”
Raka diam mematung. Dia memegang pipinya perlahan. Merah pekat menjalar di bawah kulit wajahnya. Perlahan, Raka menoleh menatap ayahnya. Matanya memerah garang, namun tidak ada air mata di sana. Hanya ada kemarahan yang luar biasa dingin.
“Nggak.”
“Raka!”
“Bapak pikir aku suka bikin ginian tiap malam?!” Raka menendang keranjang cucian di lantai. Pakaian bersih berhamburan. “Bapak pikir aku nggak mual ngeliatin muka mayat dipaksa senyum? Aku sampai nggak bisa tidur nyenyak, Pak! Aku mimpi dikejar hantu orang-orang ini!”
“Terus kenapa kamu kerjain, hah?! Buat gaya?! Buat beli motor balap?! Buat foya-foya sama teman-temanmu?!”
“Buat Nisa, Pak!”
Nama itu meluncur tajam, membelah udara kamar yang dingin.
Kaunia terdiam. Mulutnya setengah terbuka.
“Apa… urusannya sama adikmu?”
Raka berbalik, berjalan cepat dengan langkah berat ke arah lemari bajunya. Dia menarik laci paling bawah, membongkar tumpukan kaus kaki dan sarung tangan, lalu menarik paksa sebuah map plastik berwarna biru. Dia berjalan kembali dan melempar map itu ke dada ayahnya.
Map itu menghantam dada Kaunia dan jatuh ke lantai. Isinya tumpah berhamburan.
Kertas-kertas. Kuitansi berlogo sebuah rumah sakit swasta pusat. Kuitansi klinik swasta. Kuitansi apotek dengan deretan nama obat berbahasa asing.
Kaunia menunduk. Tulisan “Poliklinik Psikiatri” tercetak tebal di bagian atas salah satu kertas kuning.
“Itu…” Raka menunjuk tumpukan kertas berserakan dengan tangan bergetar, napasnya memburu. “Tagihan dokter jiwa Nisa selama delapan bulan terakhir. Biaya konseling tiap minggu. Harga obat penenang yang nebusnya dua juta per resep.”
“Dokter jiwa?” Kening Kaunia berkerut dalam. Suaranya melemah drastis. “Bapak udah bilang, Nisa itu cuma sedih gara-gara mamanya nggak ada. Dia malas keluar karena manja. Nggak ada itu sakit jiwa. Orang gila itu yang di pinggir lampu merah telanjang. Nisa cuma butuh banyak sholat malam.”
Raka tertawa sumbang. Tawa lelah yang mengiris telinga.
“Bapak tahu nggak, tiga bulan lalu pas Bapak ke luar kota… Nisa ngapain di kamar mandinya?”
“Raka, jangan macam-macam…”
“Bapak ingat hari Bapak pulang, terus Nisa dibilang masuk angin parah, perutnya sakit, jadi nggak keluar kamar dua hari penuh?” Raka melangkah maju. Tangannya mencengkeram lengan kemeja ayahnya. “Dia nenggak cairan pembersih porselen, Pak. Setengah botol.”
Kaki Kaunia terasa seperti jeli. Tumpuannya goyah. Dia menatap Raka lekat-lekat, mencari jejak kebohongan khas anak remaja. Tidak ada sama sekali.
“Bapak masuk sana ke kamarnya, cek paha kirinya kalau nggak percaya. Bekas sayatan silet melintang puluhan baris. Nisa mau mati, Pak. Setiap hari di rumah sepi ini, dia nyari celah buat bunuh diri.”
“Nggak mungkin…” Kaunia menggeleng lambat. Matanya nanar. “Anak Bapak tahu agama… Dosa besar bunuh diri. Nggak… nggak mungkin dia berani.”
“Orang sakit otaknya nggak peduli dosa, Pak!” bentak Raka keras. Air mata akhirnya merembes keluar membasahi pipinya yang bengkak. “Dia sakit! Sakit beneran! Tapi tiap kali aku bilang Nisa butuh dokter ahli, Bapak bilang apa? ‘Kita ini keluarga waras, Ka. Jangan dibawa-bawa ke dokter gila, malu sama Pak RT’. Malu, Pak. Bapak lebih milih Nisa mati daripada Bapak malu!”
Kaunia membisu. Seluruh isi paru-parunya seakan disedot paksa.
Tangannya yang gemetar perlahan turun, mengambil satu kuitansi di dekat ujung sepatunya.
Tanggalnya tertera lima hari yang lalu. Rp 2.850.000. Tulisan dokter jaga: Terapi Lanjutan dan Penebusan Resep.
“Aku yang bawa dia ke klinik malam-malam sembunyi-sembunyi,” Raka melanjutkan, suaranya habis terbakar emosinya sendiri. “Aku yang tanda tangan sebagai wali darurat. Aku yang nebus obatnya tiap minggu biar dia bisa tidur tanpa nangis. Bapak tahu dari mana duitnya? Dari muka Tante Santi yang Bapak bilang duit haram itu. Dari bapaknya Mbak Rini yang udah mati.”
Di layar monitor belakang mereka, video Tante Santi terus diulang. Senyum buatan mesin itu mengembang lebar, matanya berkedip, lalu mengembang lagi.
“Sekarang Bapak pilih,” bisik Raka lambat-lambat. “Aku format semua komputer ini sekarang, aku kembaliin duit haramnya. Tapi bulan depan Nisa putus obat dan loncat dari balkon kamar lantai tiga.” Raka menghapus kasar air matanya. “Atau Bapak turun ke bawah, tutup mulut, pura-pura nggak lihat apa-apa, dan biarin aku masuk neraka asal adikku tetap hidup.”
Udara di kamar itu terasa habis ditarik vakum.
Dengung kipas komputer bertarung dengan dentang jam dinding di luar kamar.
Kaunia menatap kuitansi di tangannya yang bergetar. Kertas tipis berbau tinta karbon itu tiba-tiba terasa seberat batu bata. Dia meremas pinggirannya hingga berkerut.
Rahangnya mengeras kuat. Matanya melirik keranjang cucian yang terbalik. Kemeja putih seragam SMA milik Nisa yang sudah setahun lebih tidak dipakai tergeletak di lantai, baru saja disetrikanya dengan rapi pagi tadi, lipatannya masih sempurna.
Perlahan, jari-jari Kaunia membuka. Dia melepaskan kuitansi itu. Dibiarkannya kertas itu melayang jatuh bertumpuk kembali ke atas lantai kayu.
Dia berbalik memutar badan. Tubuhnya gontai. Dia tidak memungut cuciannya yang berantakan, tidak menatap wajah Raka sejenak pun. Kakinya diseret keluar melewati ambang pintu kamar, dan dia berjalan menuruni anak tangga marmer satu demi satu menuju lantai dasar yang sunyi senyap.
Terdengar bunyi klik keras dari belakang punggungnya. Pintu kamar Raka dikunci dari dalam.
Kaunia berhenti di anak tangga paling bawah. Tangannya mencengkeram erat teralis besi tempa. Dia berdiri kaku di sana, menatap ruang tamunya yang luas namun kosong melompong, sementara sayup-sayup dari lantai atas terdengar rentetan klik mouse yang kembali berjalan lambat-lambat di udara dingin.
Penulis: pakmus911
